CERITA ANAK CERITA KLANGENAN

    Sebuah cerita anak yang dibaca pada masa kecil ternyata sering kali masih melekat dalam pikiran sampai kita dewasa. Meskipun lupa-lupa ingat isinya. Ini tampak pada teman-teman – yang sekarang sudah jadi ayah-ibu, atau bahkan menjadi kakek-nenek - masih ingat akan cerita-cerita yang pernah dibacanya pada masa anak-anak. 

    Salah satu cerita – karangan saya - yang dulu sering dibicarakan adalah Sersan Grung-Grung. Bahkan ada seorang teman yang bilang, kalau pas sedang bercanda dengan sobat-sobat seangkatan, kemudian teringat suatu kesan di masa kecil, langsung ada yang nyeletuk: Lho itu kan zamannya Sersan Grung-Grung!

    Sersan Grung-Grung saya buat pertama kali tahun 1977. Dimuat di Majalah Bobo sebagai cerita bersambung. Kemudian masih beberapa kali lagi cerita Sersan Grung-Grung lainnya dimuat di majalah yang sama. Selanjutnya cerita tersebut diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Gramedia. Lalu karena disukai oleh anak-anak masa itu, penerbit menganjurkan saya untuk membuatnya menjadi cerita serial, sehingga akhirnya menjadi 9 judul. Judul yang ke sembilan saya tulis tahun 1984. 

                                                 ***

    Terdapat aneka jenis cerita anak, Sersan Grung-Grung masuk jenis cerita petualangan.

    Pada umumnya anak-anak suka membaca cerita petualangan, karena melalui cerita petualangan mereka bisa menembus tembok batas yang mengungkung mereka. Karena anak itu makhluk kecil, masih bergantung pada orang dewasa. Tetapi melalui cerita, setidak-tidaknya lewat pikiran dan angan-angan, mereka bisa melancong ke mana-mana. Ke gua-gua yang seram, menyeberangi sungai maupun mengarungi samudera. Mengalami aneka pengalaman yang bersinggungan dengan sifat heroik pada anak-anak.

    Melalui cerita petualangan - anak-anak serasa ikut menghadapi tantangan, bahaya, melakukan analisa dan mengambil keputusan; juga menumbuhkan kekompakan dan rasa setia kawan. Cerita petualangan disukai karena mengandung unsur ketegangan,  juga kepuasan dan kesenangan.

    Melalui cerita anak pada umumnya dan cerita petualangan khususnya, anak-anak juga bisa mengalami pengalaman yang tidak bisa mereka alami sehari-hari dalam kehidupan rutin. Anak-anak juga dapat melepaskan diri dari kejenuhan. Mereka juga dapat merasakan kecemasan dan ketakutan seperti yang dialami tokoh-tokoh cerita ketika berhadapan dengan penjahat. Dan merasa puas ketika berhasil mengalahkan penjahat, seperti atau seolah-olah mengalahkan superioritas orang dewasa yang sehari-hari menekan dan mengungkung mereka. Maka cerita petualangan juga merupakan katup pelepasan emosional bagi anak-anak. 

    Berbeda dengan cerita anak bertema keseharian, cerita petualangan anak haruslah mengandung unsur action. Namanya juga petualangan. Dan bahwa dalam unsur action tadi ada tindakan, misalnya ketika berkejaran dengan orang jahat, atau ketika tertangkap dan berusaha meloloskan diri, maupun ketika melumpuhkan penjahat; itu bisa dimaklumi. Yang penting tidak berlebihan, bahkan sering pula dilukiskan dengan cara-cara yang agak konyol. Dan justru ini yang akan membuat anak-anak semakin tertarik untuk membacanya.

    Mengarang cerita anak memang berbeda dengan mengarang cerita dewasa/umum. Pada cerita dewasa kita mau ngomong apa saja silakan. Tetapi pada cerita anak ada batasan-batasan yang harus diperhatikan. Antara lain di sini termasuk penggunaan bahasa yang sederhana, dengan kalimat-kalimat dan penjelasan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Juga dalam usaha memahami imajinasi anak yang tidak terbatas. Bersifat antropomorfistis, dalam bentuk eksplorasi yang serba mungkin. Maka sesungguhnya mengarang cerita anak tidak semudah yang dibayangkan.

    Dalam pembuatan cerita anak oleh semua pihak yang terlibat, maupun ketika membaca cerita anak – kita haruslah memakai kacamata anak. Pasti keliru jika mengedepankan kedewasaan kita dalam membuat maupun membacanya. Akibatnya akan jadi cerita yang menggurui. Apalagi yang sesak dengan pesan moral berlebihan; ini yang tidak disukai oleh anak-anak. Maka seorang pengarang bacaan anak harus berusaha mengejawantah menjadi anak-anak tanpa menjadi kekanak-kanakan. Artinya ‘menjadi anak-anak’ iya, tapi pada bagian-bagian tertentu kedewasaan kita  harus tetap mengendalikan isi dan jalan cerita.                                                                         

                                                 ***

    Saya senang melihat orang-orang muda sekarang banyak yang tertarik untuk mendalami pembuatan cerita untuk anak-anak - yang banyak ragamnya. Ada cerita keseharian, cerita realistis, cerita keluarga, cerita fantasi, dongeng, cerita misteri, cerita detektif anak dan cerita petualangan. Ini tampak pada aktivitas forum atau kelompok penulis bacaan anak. Maka menilai atau mengkritisi cerita anak-anak – yang banyak ragamnya itu - tidak bisa menggunakan pola atau standar yang seragam.

    Sersan Grung-Grung yang saya tampilkan ini, merupakan salah satu cerita serial yang pernah saya buat. Serial lainnya adalah Kelompok 2 &1, Triona dan Sandi.

     Khusus serial Sandi saya sengaja menggunakan lokasi realistik untuk tempat terjadinya kisah petualangan tokoh-tokohnya.  Maka sebelum menulis, saya mendatangi lokasi-lokasi tersebut. 

     Serial Sandi terdiri dari tiga judul: Terlibat di Bromo,  Terlibat di Trowulan dan Terlibat di Mahakam. Tujuan saya membuat cerita tersebut, selain sebagai bacaan yang menghibur – juga bagaimana lewat cerita petualangan – kita memperkenalkan tempat wisata atau situs bersejarah serta budaya setempat. Semuanya saya usahakan tersaji melalui petualangan yang seru dan menegangkan. Lalu bagaimana respons anak-anak masa itu terhadap cerita semacam ini? Suka! Mereka banyak yang menulis surat kepada saya dan memberi usul, antara lain, “Om, kapan kelompok Sandi bertualang di sungai Kapuas?” Ada yang usul bikin petualangan di Bali dan tempat-tempat lain.

      Sayang, saya tidak berhasil memenuhi harapan mereka.

      Maka buat pengarang muda, siapa tahu bisa menjadi inspirasi. Dan mendorong Anda untuk menulis cerita petualangan yang kekinian, untuk menambah kaya jenis cerita petualangan yang sudah dibuat. Pasti seru!

    Dan bagi yang dulu pernah membaca Sersan Grung-Grung dan serial saya lainnya, mungkin cerita ini bisa menjadi semacam klangenan, nostalgia, mengingat-ingat masa kecil yang pasti banyak menyimpan kenangan. Sekaligus mungkin dapat ditunjukkan kepada anak, keponakan: Ini lo yang pernah  kami baca, dulu, ketika masih anak-anak....

(Dwianto Setyawan)


Komentar