MEMBUAT BACAAN ANAK

Kau boleh memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu

Karena mereka punya pikiran sendiri

Kau boleh menempatkan badannya tetapi bukan jiwanya

Karena jiwanya menghuni rumah esok hari, yang tidak dapat kaukunjungi

bahkan dalam mimpimu

Kau boleh berusaha menyerupai mereka, tetapi jangan berusaha membuat

mereka seperti engkau

Sebab hidup tidak berjalan mundur

Ataupun terpancang pada kemarin

Sebagian dari puisi Khalil Gibran tentang anak-anak ini - sering saya kutip manakala saya berbicara atau berdiskusi dengan siapa pun yang ingin terlibat dalam pembuatan buku bacaan anak. Karena dari pengalaman selama puluhan tahun mengarang bacaan anak – saya merasa memang seperti itulah kira-kira ketika kita menulis bacaan untuk anak.

Kita harus sadar bahwa sebagai penikmat buku bacaan, anak-anak adalah subyek, bukan obyek. Maka dalam menulis – kita harus bersikap you oriented, bukan I oriented. 

Mengapa hal tersebut perlu ditekankan? Karena buku bacaan anak itu dibuat oleh orang dewasa, diedit oleh orang dewasa, diterbitkan dan dipasarkan oleh orang dewasa namun sasarannya bukan orang dewasa, tapi anak-anak. Tanpa pemahaman yang dalam – maka buku bacaan anak bisa kebablasan menjadi buku umum/dewasa yang dianak-anakkan. 

Padahal anak-anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini. Padahal anak-anak punya pikiran sendiri. Sebagai orang dewasa adakalanya karena arogansi kita, ditambah dengan kekuranganpahaman tadi, kita lalu mengabaikan kepentingan, minat,  kemampuan daya pikir maupun daya serap anak-anak terhadap bacaan yang kita buat. Kita lalu berupaya menjejalkan pikiran-pikiran kita.

Hasilnya? Buku bacaan yang kita buat menjadi tidak diminati oleh anak-anak. Ya itulah bentuk protes mereka (anak-anak) yang lalu mengemohi buku bacaan buatan kita tersebut. Maka akan sayang sekali kalau misalnya dalam sebuah proyek pengadaan buku bacaan anak - yang sudah menghabiskan tenaga dan dana besar – hanya menghasilkan buku bacaan yang diemohi oleh anak-anak.

Dalam seri video Nyala Imaji tentang Bacaan Anak, saya mengimbau agar lebih banyak orang - siapa pun dari antara kita - yang mau terlibat dalam pembuatan buku bacaan anak; baik fiksi maupun non fiksi. Entah itu dari kelompok ibu dan ayah, guru-guru, khususnya guru PAUD, TK, SD, maupun relawan dan petugas perpus serta taman bacaan – yang sering bergaul dan dekat dengan anak-anak. Karena dari kedekatan dengan anak-anak itu sangat mungkin memunculkan ide-ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi bacaan anak. Karena semakin banyak yang melibatkan diri -  tentu semakin banyak pula ide-ide dan kreativitas baru yang bisa ditampilkan. Dan pada akhirnya bisa menambah ramai dan serunya khasanah bacaan anak-anak.  Suatu hal yang tentu akan menguntungkan anak-anak itu sendiri.

(Dwianto Setyawan)

Komentar