ANTARA MENULIS DAN MENGARANG

Beberapa orang mungkin pernah mengalami kesulitan dalam mengarang atau menyelesaikan sebuah cerpen. Hal semacam itu pernah diungkapkan kepada saya, bahwa yang bersangkutan sudah berusaha keras mengarang cerpen tetapi tidak pernah selesai. Tidak pernah jadi, alias mandeg di tengah jalan. Padahal dia sudah berusaha mati-matian. Akhirnya yang bersangkutan merasa putus asa, malas melanjutkan aktivitas mengarang yang tadinya sangat menjadi minatnya.

Saya bertanya kepadanya, apa Anda sudah pernah mencoba untuk menulis? 

Memangnya ada beda antara menulis dan mengarang?

Menurut saya dan juga menurut beberapa orang, memang ada. Meskipun barangkali hanya sekadar istilah, atau hanya dalam pikiran, tetapi hasil dari kedua aktivitas tersebut memang berbeda.

Menulis berkaitan dengan karya tulis, karya non fiksi, reportase, feature, artikel, opini, tulisan ilmiah populer, biografi, dan sejenisnya. Sedangkan mengarang berkaitan dengan karya fiksi, cerpen, novelet dan novel.

Seorang jurnalis yang membuat laporan perjalanan, feature atau berita, dia menulis. Begitu juga seseorang yang membuat artikel atau tulisan tentang komputer, tentang kesehatan, atau tulisan ilmiah populer; dia juga menulis, bukan mengarang.

Sementara seseorang yang membuat cerpen atau novel, mengungkapkan ide yang bermunculan di kepalanya dan kemudian menciptakan karakter-karakter, lalu menjabarkan kisahnya menjadi sebuah cerita – dia mengarang. 

Begitulah kira-kira bedanya. Bahwa sehari-hari antara menulis dan mengarang dianggap sama – kenyataannya memang begitu. Sebab mengarang juga bagian dari menulis, tetapi dalam pikiran - setidak-tidaknya - kedua istilah itu penting untuk dibedakan. Bahkan kalau hal ini tidak disadari sejak awal, bukan tidak mungkin akan bisa melemahkan semangat seperti contoh yang saya ceritakan di atas.

Maka ketika kita berniat mengarang cerpen, berniat menjadi cerpenis atau novelis; ada baiknya jika kita juga mencoba untuk menulis. Menulis sebuah laporan perjalanan atau artikel, misalnya.  Lalu kita rasakan mana yang lebih gampang kita selesaikan. Yang lebih mengalir dan tidak banyak sumbatan pikiran yang membuat karya kita tidak pernah bisa selesai tuntas. Mengarang cerpen atau menulis artikel?

Bila yang kita rasakan lebih mengalir, lebih gampang kita selesaikan  - ternyata adalah menulis sebuah artikel atau laporan perjalanan - ya jangan paksakan mengarang cerpen. Menulis saja dulu sampai selesai. Yang penting selesai, agar dengan demikian kita tidak putus asa atau frustrasi. Bahwa kemudian kita akan beralih aktivitas untuk mengarang cerpen lagi, tentu baik sekali, namun bisa kita coba di lain kali.

Sebab memang ada orang yang piawai dalam bidang penulisan, entah itu laporan perjalanan, feature, artikel, tulisan ilmiah populer, penulisan biografi; tetapi ada pula yang memang piawai dalam hal mengarang. Namun yang mana pun di antara keduanya - tetap merupakan aktivitas yang mengasyikkan.

                                                         ***

Satu lagi dari aktivitas menulis yang menantang untuk ditekuni adalah menulis feature. Lantas apa itu feature? 

Feature adalah karangan yang khas, ada yang menyebutnya berita kisah atau artikel tuturan. Dalam kaidah jurnalistik, penulisan feature ada di atas penulisan straight news (berita lurus). Di atasnya lagi adalah editorial yang merupakan hak prerogatif para petinggi surat kabar. Lewat feature kita bisa menyampaikan tulisan kita dengan gaya bercerita dan menghibur. Maka kadang-kadang membaca sebuah feature bisa serasa membaca cerpen. Berbeda dengan penulisan straight news, pada penulisan feature – opini dan  subyektivitas penulis -  bisa dan boleh ikut mempengaruhi tulisan, namun tetap tidak boleh mengabaikan fakta dan data. Karena feature bukan sebuah karya fiksi.

Ada berjenis-jenis feature: Feature perjalanan/advontur, feature sejarah, feature biografi, trend feature, feature ilmiah populer, dan masih ada beberapa lagi – termasuk human interest feature.

Human interest feature menarik karena di dalamnya terkandung personal appeal yang bisa menggugah emosi pembaca. Gara-gara membaca sebuah human interest feature – orang bisa bersimpati, jatuh kasihan, atau bahkan merasa geram.

Ketika seseorang tengah berdiri di depan sebuah toko bangunan yang lagi ramai pengunjungnya. Jika dia seorang pedagang – mungkin yang terpikir adalah berapa omzet toko tersebut, berapa keuntungannya. Namun jika dia penulis feature, maka dia akan lebih tertarik melihat seorang bapak tua yang terbongkok-bongkok memanggul tumpukan karung semen di punggungnya, yang mondar-mandir dari toko menuju mobil pikep, sambil berpikir: siapa bapak itu, sudah berapa lama dia bekerja sebagai kuli panggul, berapa penghasilannya, bagaimana keadaan keluarganya, dan lain sebagainya; yang akan menjadi bahan bagi tulisan featurenya.

Mahir menulis feature akan memudahkan bagi seseorang untuk mengarang cerpen, karena pada beberapa feature memang terasa beda-beda tipis dengan sebuah cerpen ketika dibaca.

                                                             ***

Selain laporan perjalanan dan feature - menulis artikel sebenarnya juga mengasyikkan. Lewat sebuah artikel kita bisa memaparkan buah pikiran kita kepada pembaca. Kita juga bisa mengemukakan pandangan, opini atau pendapat kita  akan suatu realitas masalah sambil mengusulkan solusinya. Maka menulis artikel juga melatih kita untuk berpikir sistematis dan solutif.

Menulis artikel sebenarnya tak beda dengan waktu kita mengobrol dengan teman. Obrolan akan menjadi hangat dan seru ketika kita membicarakan sesuatu yang menarik, yang fakta dan datanya kita kuasai. Tetapi sebaliknya obrolan terasa hambar dan membosankan ketika bahan obrolan menyangkut sesuatu yang tIdak menarik bagi kita, dan masalahnya kurang kita kuasai.

Oleh karena itu dalam menulis artikel – seyogyanya kita memilih topik bahasan yang dekat dengan kita, yang menarik perhatian kita. Karena semakin besar penguasaan atas topik yang kita bahas, artikel kita akan semakin bernas dan berbobot.

Untuk menulis artikel tinggal bagaimana kita mulai menentukan topik bahasan artikel kita, merumuskan masalah dan pokok pangkal persoalan, mengumpulkan data dan fakta yang terkait, hingga kemudian membuat kerangka tulisan hingga menjadi sebuah artikel.

Ada banyak tema yang bisa diangkat, seperti misalnya tentang budaya, kesehatan, perbukuan, bisnis, komputer, fotografi, ekonomi, politik, olahraga, dan lain-lain. Namun paling baik - kalau kita memilih tema yang dekat dengan kita, yang paling menjadi perhatian kita. Jadi fokus. Karena ketika kita fokus, pendalaman terhadap masalahnya akan semakin menukik. Materi, data, dan fakta dari topik bahasan tersebut juga semakin banyak, semakin kita kuasai. Maka dengan sendirinya artikel kita dari waktu ke waktu akan menjadi semakin bernas dan berbobot.

Dulu semasa saya masih aktif menulis di media cetak, saya banyak memberi perhatian pada dunia penerbitan buku, khususnya buku anak-anak dan remaja. Makin lama data saya tentang hal tersebut semakin banyak. Demikian pula pemahaman saya atas perkembangan dan masalah yang terkait.

Karenanya kalau lagi membutuhkan, redaktur surat kabar dan majalah sering menelpon dan meminta tulisan atau pendapat saya tentang dunia bacaan tersebut. Begitu pula kalau ada pameran buku Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) baik di Jakarta maupun di Surabaya dan lain-lain, panitianya sering meminta opini dan pandangan saya. 

Penulis artikel yang baik – di samping memberi informasi yang bermanfaat – juga bisa mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap suatu hal. Sebuah artikel bahkan bisa mempengaruhi pembuat kebijakan.

Beberapa orang memulai dari menulis artikel, kemudian menjadi pengamat yang pendapatnya dibutuhkan orang banyak. Entah sebagai pengamat politik, kebudayaan, bisnis, keuangan, kesehatan, dan lain-lain. Sebagaimana yang kita lihat mereka sering tampil di televisi. 

Maka kesimpulannya, tidak semua dari antara kita harus menjadi pengarang, cerpenis atau novelis. Aktivitas menulis juga menantang, menyenangkan dan  luas jangkauannya. Bayangkan jika kita bisa menulis buku tentang ekonomi, politik, kesehatan, budaya, perilaku dan motivasi, tentang komputer, dan lain sebagainya. Pasti mengasyikkan. Dan jangan lupa -  buku-buku semacam itu banyak yang booming, dicetak berulang-ulang, melebihi cetak sebuah novel.

(Dwianto Setyawan)

Komentar